Cara Memahami Keuangan Komersial

logo switch-foot.com

Perlunya Memahami Laporan Keuangan

Di Indonesia, perhitungan pajak menganut sistem self assessment, yakni wajib pajak menghitung dan membayar pajaknya secara mandiri. Di perusahaan (badan), pelaporan SPT Tahunan Badan kita lakukan dengan melaporkan keuangan yang tersusun melalui prinsip akuntansi.

Biasanya, ada dua tipe laporan keuangan yang orang pakai, yakni laporan keuangan komersial dan fiskal. Keduanya bisa kita gunakan untuk menentukan besar pajak yang terutang. Agar tidak bingung perihal ke-2 laporan keuangan, silahkan review artikel berikut ini!

Pengertian Laporan Keuangan Komersial

Laporan keuangan merupakan alat untuk menyajikan informasi keuangan selama periode tertentu, terutama untuk pemegang saham atau kreditur. Laporan keuangan fiskal komersial adalah laporan yang tersusun dengan komitmen akuntansi keuangan untuk mengidentifikasi untung rugi dari kacamata komersial.

Beberapa tujuan laporan keuangan komersial adalah memberikan informasi yang valid, lengkap, dan relevan perihal beberapa hal. Di antaranya adalah posisi keuangan, kinerja perusahaan, dan juga arus kas yang nantinya bisa perusahaan gunakan untuk membuat keputusan.

Laporan keuangan komersial menunjukkan keseriusan manajemen di dalam menggunakan sumber daya perusahaan. Meski begitu, bisa jadi, informasi yang kita cari tidak ditemukan di dalam laporan ini. Karena, laporan keuangan mendeskripsikan pengaruh kejadian lampau dan tidak menuliskan informasi lain (selain informasi keuangan). Setiap faktor laporan keuangan komersial adalah kesatuan. Maksudnya, jika ada yang perusahaan hilangkan, maka dapat berpengaruh ke informasi secara keseluruhan.

Pengertian Laporan Keuangan Fiskal

Laporan keuangan fiskal adalah tipe laporan keuangan yang didasarkan pada undang-undang perpajakan untuk mendapatkan Penghasilan Kena Pajak dan pajak terutang. Meski sering orang pakai, istilah ini tidak baku. Ditjen Pajak menggunakannya untuk mencari Penghasilan Kena Pajak yang mereka dapatkan dari Laporan Keuangan Komersial.

Karena menganut sistem self assessment, maka wajib pajak berkewajiban menghitung sendiri pajaknya. Barulah, mereka melaporkannya ke kantor pajak terdekat.

Laporan keuangan fiskal tersusun dari:

  • Elemen neraca fiskal
  • Perhitungan laba rugi dan laba ditahan fiskal
  • Penjelasan laporan keuangan fiskal
  • Rekonsiliasi laporan keuangan komersial
  • Laporan keuangan fiskal
  • Ikhtisar kewajiban pajak

Perbedaan Laporan Keuangan Komersial dan Fiskal

Laporan keuangan komersial adalah perihal yang berbeda dengan laporan keuangan fiskal. Keduanya tersusun dengan komponen dan obyek yang berbeda.

Beberapa perbedaan laporan keuangan fiskal dan laporan keuangan komersial adalah sebagai berikut:

1. Komponen Penghasilan dan Pendapatan

Perbedaan pertama laporan keuangan fiskal dengan laporan keuangan komersial adalah komponen pendapatan dan pendapatan. Dalam perihal ini, menurut IFRS IAS 2018, dijelaskan bahwa pendapatan merupakan pendapatan bruto atas fungsi ekonomi di dalam jangka tertentu.

Pendapatan ini kita dapatkan dari kegiatan usaha sehingga berdampak pada meningkatnya ekuitas pemodal. Dalam kesepakatan IAI (Ikatan Akuntan Indonesia), disebut bahwa pendapatan merupakan kenaikan fungsi ekonomi di dalam suatu periode akuntansi yang membuat ekuitas yang tidak berasal dari investor meningkat.

Jika kita melihat dari komponen penghasilannya, konsep fiskal mirip dengan konsep akuntansi. Konsep fiskal tertuang di dalam Pasal 4 UU No. 36 tahun 2008, di mana wajib pajak yang mendapat pendapatan dari dalam atau luar negeri yang sifatnya meningkatkan kekayaan harus terdiri atas:

  • Penghasilan adalah objek PPh
  • Penghasilan dikenakan pajak dari PPh final
  • Penghasilan bukan objek pajak

2. Komponen Biaya Atau Beban

IAI mengatakan bahwa beban merupakan penurunan fungsi ekonomi di dalam jangka satu periode akuntansi di dalam arus kas keluar atau pengurangan aset sebagai implikasi terdapatnya kewajiban. Kondisi ini membuat penyusutan ekuitas yang tidak menyangkut proporsi seluruh pemodal. Jika menilik faktor fiskal, beban adalah penyesuaian biaya yang wajib pajak untuk memperoleh, menagih, atau menjaga pendapatan yang terkait langsung dengan pendapatan yang kita dapatkan.

Metode Penyusutan

Dalam akuntansi, terdapat istilah penyusutan. Hal ini merujuk pada kenyataan bahwa suatu aset dapat mengalami pengurangan nilai dari waktu ke waktu. Pengurangan nilai bisa kita sebut dengan istilah depresiasi. Di mana, untuk menghitungnya, Anda bisa menggunakan beberapa metode.

Beberapa metode penyusutan di dalam laporan keuangan komersial adalah sebagai berikut:

1. Metode Garis Lurus

Metode garis lurus atau straight line basis adalah metode penyusutan dengan karakteristik nilai beban yang mirip sepanjang waktu. Penyusunan mempunyai nilai yang tetap hingga usia ekonomis aset habis. Metode penyusutan ini wajib pajak kalkulasi dengan membagi nilai sisa dengan perkiraan pas pemakaian aset. Beberapa elemen yang berpengaruh terhadap perhitungan ini adalah harga perolehan, nilai residu, dan usia ekonomis.

Metode garis lurus lebih mengedepankan faktor waktu daripada kegunaan. Kelebihan metode penyusutan ini adalah pengaplikasian yang gampang dan pemilihan biaya penyusutan tidak rumit. Saat ini, banyak perusahaan yang menggunakan metode ini. Kekurangan metode straight line basis adalah biaya pemeliharaan dan perbaikan yang wajib pajak anggap sama tiap periode.

Sehingga, di lapangan, beban penyusutan tidak selamanya mencerminkan usaha yang perusahaan kerahkan untuk memperoleh penghasilan. Selain itu, cara ini juga tidak menggambarkan pengembalian yang nyata dari usia pemakaian aset. Bisa kita pahami, metode ini melibatkan banyak asumsi. Di samping nilai perolehan yang mudah didapat, Anda tidak bisa memperkirakan nilai residu dan usia ekonomis aset.

2. Metode Garis Menurun

Metode saldo menurun di dalam akuntansi menyebabkan beban penyusutan menurun di tiap periode akuntansi. Beberapa cirinya adalah tarif penyusutan punya besar 2x dari penyusutan garis lurus, beban dapat menurun tiap periode, penyusutan tidak melibatkan nilai sisa, menghasilkan angka yang wajib dibulatkan.

3. Metode Jumlah Unit

Metode penurunan jumlah unit bisa Anda gunakan untuk menghitung depresiasi peralatan berdasarkan pekerjaan yang Anda lakukan (kapasitas produktif). Metode penyusutan ini cocok Anda terapkan jika pemakaian aset berbeda tiap tahun, dan bisa mencocokkan beban penyusutan dengan pendapatan dengan akurat.

Perhitungannya bisa Anda lakukan dengan menghitung masa kegunaan aset, baik di dalam satuan waktu atau panjang. Selanjutnya, beban penyusutan dapat kita dapatkan dari hasil kali unit penyusutan dengan kuantitas unit yang diproduksi.

Cara Menghitung Persediaan

Persediaan bisa kita kalkulasi melalui tiga cara, yakni dengan rumus persediaan FIFO, LIFO, dan juga umumnya tertimbang. Jika kita menilik undang-undang, maka metode yang banyak orang gunakan adalah metode umumnya dan FIFO. Hal ini dikarenakan LIFO yang menghasilkan perhitungan pajak terutang lebih kecil.